Senin, 08 Februari 2016

Wisata7 Kuliner Khas yang Halal di Kawasan Pecinan - Bogor


Wisata Kuliner Indonesia #393
Kuliner Bogor
Jl. Suryakencana - Gg Aut Bogor

Selama perayaan tahun baru Imlek ini, sampai 15 hari ke depan, ada satu ruas jalan di Bogor yang menjadi pusat perhatian. Kenapa? Karena kawasan ini terkenal sebagai salah satu daerah pecinan di kota Bogor, termasuk menjadi salah satu lokasi pusat perayaan Cap Go Meh yang akan diadakan pada tanggal 22 Februari 2016 nanti. Ruas jalan itu adalah Jalan Suryakencana, dimana di salah satu sudutnya terdapat kelenteng tertua di kota Bogor yaitu Kelenteng Hok Tek Bio yang juga menjadi pusat perayaan imlek di kota hujan ini. Tidak hanya itu, Jl Suryakencana juga dikenal sebagai salah satu pusat kuliner tradisional. Membentang sepanjang kurang lebih 1 kilometer mulai dari kawasan Pasar Bogor sampai Perempatan Gang Aut/Jl Roda, beberapa kuliner khas kota hujan hadir di tempat ini. Tentunya ada beberapa kuliner yang non-halal bagi kaum muslim, tapi tetap mayoritas menyajikan kuliner yang halal. Kita akan melihat satu sudut di ruas jalan ini, tepatnya di perempatan Jl Suryakencana dengan Gang Aut dan Jl. Roda. Aneka kuliner tradisional khas Bogor hadir di tempat ini, tapi paling tidak inilah 7 (tujuh) kuliner yang harus Anda coba:



1. Cungkring


Tidak banyak yang mengenal kuliner khas Bogor yang satu ini. Namanya pun asing bagi banyak orang. Tapi di tempat ini ada penjual cungkring yang sudah berjualan selama 3 (tiga) generasi. Cungkring Pak Jumat namanya, diambil dari nama sang penjual generasi kedua. Cungkring sendiri adalah potongan kikil atau bagian pipi sapi yang dimasak dengan bumbu kuning, kemudian disajikan dengan bumbu kacang dengan aroma legit sebagai bumbunya. Ada juga tempe yang digoreng kering serta lontong untuk menemaninya. Cungkring ini hanya ada di pagi hari, mulai pukul 7 sampai sekitar pukul 11. Tapi jika sedang ramai, khususnya di akhir pekan, bisa-bisa jam 9 juga sudah habis.
Coretan lengkap tentang cungkring ini bisa dibaca di sini.

2. Soto Kuning

Soto kuning merupakan salah satu ikon kuliner khas kota Bogor. Kuah santan yang kuning dengan aroma gurih kaya rempah membanjiri mangkok yang berisi daging dan jeroan sapi. Cukup banyak penjaja soto kuning di Jl. Suryakencana ini. Yang banyak direkomendasikan untuk pagi dan siang hari adalah Soto Pak Yusup, sementara kalau sore hari silakan cicipi Soto Pak Salam, yang berada sekitar 50 meter dari sudut jalan ini ke arah Jl Siliwangi. Padatnya antrian para pengunjung di kedai kaki lima ini cukup membuktikan kualitas dan performa dari kuliner yang satu ini. Kurang elok tampaknya jalan-jalan ke Bogor tanpa mencicipi Soto Kuning ini.
Coretan lengkap tentang Soto Pak Salam bisa dibaca di sini

3. Asinan Bogor dan Asinan Jagung Bakar

Ada dua jenis Asinan Bogor yang bisa kita nikmati: Asinan Buah atau Asinan Sayur. Potongan buah seperti timun, nanas, salak, jambu, pepaya, bengkuang dan buah pala "tenggelam" dalam kuah asinan Bogor yang asam dan pedas. Atau bisa juga memilih Asinan Sayur yang berisi wortel, lobak, kol, tauge, sayur asin, tahu, timun, dan sebagainya. Disajikan dengan butiran kacang tanah dan kerupuk kuning sebagai pelengkap. Masuk sedikit dari perempatan tesebut ke Jl. Roda, ada penjual Asinan Bogor yang sudah turun temurun sampai tiga generasi menjajakan kuliner khas Bogor ini.

Nah jika Asinan Bogor sudah terkenal sebagai salah satu kuliner dan oleh-oleh khas Bogor, tapi tahukah Anda ada yang namanya Asinan Jagung Bakar? Ya, jagung manis yang dibakar atau dipanaskan di atas plat besi diguyur dengan "kuah" asinan yang asam dan pedas, serupa dengan kuah asinan Bogor, sueeggerrrr.... Saya lebih suka dibawa pulang untuk disimpan terlebih dahulu di lemari pendingin biar lebih nyosss...

4. Laksa Bogor

Masuk sedikit ke Gg Aut akan kita temui tenda dengan tulisan Laksa Gg. Aut yang menyajikan laksa khas Bogor. Yang menjadi pembeda laksa Bogor dengan laksa lainnya adalah penggunaan oncom sebagai "topping" dari kuah laksa kuningnya. Parutan kelapa yang sengaja dibiarkan kasar juga membuat sajian kuliner bogor yang satu ini spesial.
Coretan lengkap tentang Laksa Gg. Aut bisa dibaca di sini

5. Aneka Pepes

Pepes ayam ataupun pepes ikan mungkin biasa kita dengar atau kita makan. Tapi bagaimana dengan pepes sagu pisang, pepes oncom, pepes pete dan aneka pepes lainnya? Tampaknya hanya di Jl. Suryakencana ini kita bisa menemukannya. Satu kedai kecil menyajikan aneka pepes dan menjadi salah satu buruan para pemburu kuliner di tempat ini.

6. Es Pala dan Es Mangga

Cari yang segar-segar? Es Pala dan Es Mangga di sini bisa jadi solusinya. Didalam es mangga kita akan menemukan potongan buah mangga muda yang diiris tipis di dalam air gula, pun mirip dengan es pala yang berisikan buah pala. Salah satu "dessert" segar khas dari Bogor

7. Bir Kocok

Walaupun namanya Bir,tetapi bir yang satu ini halal koq, karena tidak mengandung alkohol. "Bir tradisional" ini terbuat dari paduan jahe, kayu manis dan gula merah, yang di-"kocok" dengan es batu, sehingga menghasilkan minuman yang menyegarkan rongga mulut tapi dapat menghangatkan badan.

Pada tanggal 10 Februari 2016, Walikota Bogor Bima Arya meresmikan "Lawang Suryakencana", sebuah gerbang kawasan pecinan di depan Jl. Suryakencana, dan juga sebagai salah satu jalan tertua di kota Bogor ini. Kawasan ini juga memang lekat jika kita berbicara tentang wisata kuliner di Bogor, Tidak hanya tujuh jenis kuliner di atas sebenarnya, tapi sepanjang jalan ini kita bisa menemukan aneka jajanan lainnya seperti toge goreng, dodongkal, comro, wedang ronde, gorengan, sate sumsum, nasi goreng pete dan sebagainya. Jadi, catat ruas jalan ini sebagai destinasi Anda yang berburu kuliner di kota ini.

Peta Perempatan Jl. Suryakencana - Gg Aut:
Koordinat GPS: -6.60993, 106.80447


Senin, 01 Februari 2016

WisataKuliner Bandung - Sate Anggrek


Wisata Kuliner Indonesia #392
Kuliner Bandung
SATE ANGGREK H. AHMAD NAWAWI
Jl. Anggrek (Perempatan dengan Jl. RE Martadinata/Riau) - Bandung


Kepulan asap membumbung di sudut Jl. Anggrek kota Bandung, membawa aroma daging terbakar ke udara kota kembang yang sejuk di sore itu. Di kaki lima sudut jalan itu tampak tiga - empat orang tengah mengipasi bakaran sate, dengan ratusan tusuk sate di atasnya. Beberapa pengunjung berdiri menanti pesanannya untuk dibawa pulang, sementara sebagian yang lain duduk di meja-meja sederhana siap menunggu sate yang akan disantap. Itulah suasana di Sate Anggrek H. Ahmad Nawawi yang hampir terjadi setiap sorenya. Sejak buka sekitar pukul setengah 4 sore, para pelanggan sudah menyerbu tukang sate yang memang sudah melegenda ini. Asap mengepul seolah tanpa henti di kedai kaki lima ini, membakar puluhan bahkan ratusan tusuk sate dalam sekali waktu dan menghabiskan ribuan tusuk sate setiap harinya. Bahkan ketika saya berkunjung ke sana, tampak dua orang berkulit putih alias bule sedang menikmati sajian sate ayam di tempat ini. Apa yang sebenarnya menjadi daya tarik dari sate anggrek ini?

Yang pertama jelas murah, harga satu porsi alias sepuluh tusuk dari sate ini hanya berkisar belasan ribu rupiah saja. Harga murah dari sate ini memang sudah terkenal sejak lama, bahkan dulu kedai sate ini juga mengusung nama Sate Mirah yang berarti murah dalam bahasa Sunda. Yang kedua, enak. Harga murah jika tidak disandingkan dengan kualitas yang memadai tentunya tidak akan dapat menarik dan mempertahankan pelanggan. Sate Anggrek walaupun menyediakan sate dengan harga terjangkau, tapi tetap mempertahankan kualitas daging dan bumbu olahannya. Dan yang ketiga adalah cepat. Di sini sate dibakar dalam jumlah banyak sekaligus, sehingga jika ada yang memesan sudah langsung siap saji. Loh nanti satenya keburu dingin dong? Nah ini hal yang unik lainnya yang bisa ketemukan di sini, ada sebuah kuali besar berisikan bumbu kacang selalu berada di atas tungku berbahan bakar arang yang selalu menyala menghangatkan bumbu kacang ini. Sehingga walaupun terkadang satenya sudah tidak hangat, tapi bumbunya terjaga agar selalu hangat agar tidak mengurangi kenikmatan makan kita.


Sate ayam menjadi "primadona" di sate anggrek ini, walaupun ada menu lainnya seperti seperti kambing dan soto sulung. Sate dan soto di sini memang mengusung gagrak Madura. Kedai sate ini dikelola oleh H. Ahmad Nawawi sejak awal tahun 80an dan beliau tetap mempertahankan tempat usaha kaki limanya ini walaupun sekarang sudah menjual ribuan tusuk setiap harinya dan tampaknya enggan untuk berpindah ke tempat yang lebih representatif. Untuk masalah cita rasa, mungkin sate ini masih kalah dengan para legenda sate lainnya di kota Bandung, seperti Sate Maulana Yusuf, Sate Pak Gino, Sate HM Harris ataupun Sate Hadori, yang memang juga memasang harga jauh di atasnya. Akan tetapi Sate Anggrek tetap memiliki tempat tersendiri di hati, lidah dan tentunya dompet warga di kota Bandung.

Peta dan Alamat Sate Anggrek Bandung:
Jl Anggrek (Perempatan Jl Anggrek dan Jl RE Martadinata/Riau)
Koordinat GPS: -6.91264, 107.62865


Sabtu, 30 Januari 2016

WisataKuliner Bogor - Bakso PMI


Wisata Kuliner Indonesia #391
Kuliner Bogor
BAKSO PMI
Jl. Abiyasa Raya No. 69, Indraprasta - Bogor
Telp.: 0857 7613621


Bogor terkenal sebagai kota hujan. Butiran air mengguyur kota ini tidak mengenal musim, menciptakan udara yang sejuk bagi para penghuni dan pengunjungnya. Kuliner apa yang cocok di kota hujan ini? Tentu yang hangat-hangat menjadi pilihan, salah satunya bakso. Ya, bakso sudah menjadi "kuliner sejuta umat" yang mudah ditemukan di berbagai penjuru kota di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bogor. Hampir di setiap sudut kota kita bisa temukan "tukang bakso" baik yang berkeliling maupun yang sudah menetap. Salah satu Bakso yang kondang di kota ini adalah Bakso PMI, yang terletak di kawasan indraprasta. Dinamakan bakso PMI karena terletak di belakang Gedung Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor. Ingin membuktikan "nama besar"nya, saya mengunjungi kedai Bakso ini. Saya memesan bakso dan sayur, tanpa mie, bihun atau kwietaw yang sebenarnya bisa dijadikan pilihan. Harum kuah kaldu bakso yang gurih langsung menghunjam indera penciuman yang merangsang saya untuk segera mengeksplorasi basonya. Tersaji 1 bakso besar dan empat bakso kecil dalam mangkok di depan saya. Bakso besarnya berisi daging cincang halus di dalamnya, dengan sedikit lemak yang terasa lumer di mulut. Sementara bakso kecilnya memiliki kekenyalan yang aduhai, menggoda kita untuk tidak berhenti mengunyahnya. Tak salah, walau letaknya di dalam perumahan tanpa petunjuk arah yang memadai, Bakso PMI tampak selalu ramai. Satu porsi bakso ini harus ditebus dengan harga 15ribu rupiah.


Banyak yang menyangka PMI diambil dari nama Rumah Sakit PMI yang berada tidak jauh dari tugu kujang, sehingga banyak yang salah menduga lokasi Bakso ini. Saat ini sudah ada dua cabang Bakso PMI yang bisa kita kunjungi, yang pertama ada di Jl. Achmad Adnawijaya (atau yang lebih dikenal dengan Jl. Pandu Raya) dan yang kedua ada di Jl. Achmad Sobana (yang lebih dikenal dengan Jl. Bangbarung, di dalam foodcourt di depan Klinik Medika 24jam). Di antara ketiganya, yang di Jl. Pandu Raya yang paling ramai karena lokasinya strategis dan di pinggir jalan besar. Sedangkan kedai utamanya masuk ke dalam komplek perumahan, tapi juga tidak menyurutkan niat para pelanggannya memenuhi kedai yang tidak seberapa besar itu. Kalau PMI selalu siap membantu kamu urusan darah, maka Bakso PMI siap membantu kamu untuk urusan perut :)

Jadi buat penggemar bakso di Bogor, masukkan nama "Bakso PMI" dalam catatan kamu...

Peta dan Alamat Bakso PMI:
Jl. Abiyasa Raya No. 69, Indraprasta - Bogor
Koordinat GPS: -6.5738, 106.81239


Rabu, 27 Januari 2016

WisataKuliner Bogor - Baso Pak Mien


Wisata Kuliner Indonesia #390
Kuliner Bogor
Bakso Pak Mien
Jl. Pandu Raya - Jl. Pondok Rumput Bogor


Siapa yang tidak mengenal bakso? Bola daging ini memiliki penggemar jutaan orang di Indonesia. Penjajanya pun dapat kita temukan di setiap kota dan di setiap sudut jalan. Saat ini kita pun dapat menemukan baso dalam aneka variannya, seperti bakso cincang, bakso keju, bakso telur dan sebagainya. Umumnya, di setiap kota ada tukang baso yang punya nama besar, ditandai dengan banyaknya pelanggan dan usia usahanya yang umumnya sudah bertahun-tahun. Demikian pula di Bogor, banyak pedagang bakso yang sudah bertahan selama puluhan tahun dan bahkan bisa membuka cabang. Salah satunya adalah Bakso Pak Mien yang membuka kedai pertamanya di kawasan Jl. Pondok Rumput. Saya mengunjungi cabangnya yang ada di Jl Pandu Raya di hari Minggu, sekitar jam 11 siang. Hampir semua bangku terisi ketika saya datang. Ada beberapa opsi yang bisa kita pilih, untuk mie nya bisa pilih mie yamin atau mie ayam, sementara basonya bisa memilih baso biasa atau baso rudal. Dan saya sarankan untuk memilih Baso Rudal nya. Mau tahu alasannya?

Saya memesan satu porsi Mie Yamin Bakso Rudal seharga Rp. 18.000. Hadir dua mangkok di hadapan saya, yang satu berisi mie kuning dan selada yang sudah dibumbui dan ditaburi bawang goreng, sementara mangkuk satu lagi berisi kuah yang sudah berisi tahu yang digoreng kering, potongan lemak sapi, baso kecil dan bakso rudal. Apa sebenarnya baso rudal ini? Bakso yang didalamnya berisi daging dan lemak sapi yang sudah dicincang. Juga terasa terdapat tulang-tulang rawan yang membuat sensasi sendiri dalam proses mengunyahnya. Belum lagi lemak dan daging cincang itu yang disajikan dalam kondisi panas, dan begitu masuk rongga mulut langsung meleleh di lidah. Nyam nyam nyam..... Hal inilah yang membuat saya "mewajibkan" untuk memesan bakso rudal ini jika mengunjungi Bakso Pak Mien.

Eh gak cuma bakso rudalnya loh yang patut dipoedjiken, potongan lemak, tahu, baso polos dan kuah segarnya juga layak diacungi jempol, karena berkat mereka lah satu porsi sajian ini menjadi sempurna. Saya sendiri belum pernah ke kedai utama Bakso Pak Mien ini yang ada di Jl Pondok Rumput, tapi kedainya yang di Jl. Pandu Raya ini hampir selalu tampak penuh. Sebuah tanda bahwa olahan bakso di tempat ini mendapat tempat di hati orang Bogor. Jadi buat penggemar bakso di kota Bogor, kayaknya tempat ini harus deh menjadi salah satu titik yang dikunjungi, selain beberapa tempat-tempat bakso legendaris lainnya seperti Bakso Boboho, Bakso Seuseupan, Bakso Pakde Jangkung, dan lain-lain.

Peta dan Alamat Bakso Pak Mien:
Jl Pandu Raya - Bogor
Koordinat GPS: -6.578466, 106.818222



Kamis, 21 Januari 2016

WisataKuliner Surabaya - Rujak Cingur Ahmad Jais


Wisata Kuliner Indonesia #389
Kuliner Surabaya
RUJAK CINGUR AHMAD JAIS
Jl. Ahmad Jais No. 40 Surabaya
Telp.: 031-532844
3

Rumahnya seperti ruko tua, tidak ada tulisan apapun di depannya. Tapi jajaran bangku di dalamnya tampak dipadati oleh orang-orang, sementara sebagian berdiri di dekat etalase dimana tampak ada dua orang ibu yang tengah meracik sesuatu. Ibu yang tampak lebih tua mengulek bumbu di dalam cobek yang besar, sedang yang lebih muda tengah memotong cingur, alias bagian moncong dari sapi. Ketika saya datang mendekat, sang ibu muda berujar, "Tunggu dulu ya, masih agak lama. Ini ada empat pesanan lagi". Orang yang datang setelah saya pun disapa dengan nada serupa, "Sekitar setengah jam lagi nunggu gak papa? Ini masih ngantri". Itulah suasana sekilas ketika untuk pertama kalinya saya mengunjungi salah satu ikon kuliner Surabaya yang legendaris: Rujak Cingur Ahmad Jais. Rujak cingur adalah kuliner khas Surabaya yang menggunakan cingur sebagai salah satu bahannya, disamping aneka sayuran dan buah-buahan seperti kangkung, toge, bengkuang dan mentimun. Potongan tahu goreng dan tempe kering juga tampak terselip di antaranya sebelum diguyur dengan bumbu rujak berwarna hitam pekat olahan kacang dan bumbu petis yang beraroma khas, hasil ulekan Ny. Ng Giok Tjoe yang sudah mulai berjualan rujak cingur ini sejak tahun 70an. Lalu apa yang membuat istimewa dari Rujak Cingur Ahmad Jais ini sehingga sanggup bertahan hingga puluhan tahun?

Yang pertama jelas bumbunya, harum petisnya sudah menggoda indera penciuman. Dan pada suapan pertama, indera pengecap pun dimanjakan dengan paduan rasa asam, manis dan sedikit cubitan rasa pedas yang menemani segarnya aneka sayuran dan buah, plus uniknya aroma petis yang menjadi aktor utama di bumbunya. Tapi yang paling utama tentunya adalah suguhan cingurnya. Daging cingurnya berlimpah, bersih tanpa bau amis dengan kekenyalan yang pas, tidak alot pun tidaklah terlalu lunak. Satu porsi yang tersaji di Rujak Cingur Ahmad Jais ini juga sangatlah berlimpah, cukuplah untuk berdua kecuali ketika perut tengah keroncongan. Untuk sajian yang spesial ini, harganya juga sangat sepesial. Enam puluh ribu rupiah untuk satu porsinya, dua sampai tiga kali lipat dibanding harga rujak cingur di tempat lain. Tapi hebatnya, harga yang selangit ini tidak menyurutkan pelanggan untuk tetap antri menikmati kuliner khas legendaris dari kota Pahlawan ini.

Untuk minumnya coba minuman khas di tempat ini: Sari Dele atau Cingcau Hitam. Minuman yang disajikan dingin ini menyegarkan tenggorokan di tengah udara kota Surabaya yang panas. Sari dele ini serupa dengan susu kedelai yang memiliki cita rasa yang khas. Cingcaunya juga layak diadu.

Yang belajar ilmu pemasaran tentu mengenal istilah Marketing Mix 4P yang menjadi salah satu kunci sukses pemasaran suatu usaha. 4P itu adalah Product, Price, Place dan Promotion. Tapi di Rujak Cingur Ahmad Jais ini ilmu itu tidak berlaku selain P yang pertama. Produk alias rujak cingurnya memang juara, tapi harganya sangat mahal jauh di atas harga pasaran yang memiliki produk hampir serupa, tempatnya juga tidak terlalu strategis karena terletak di depan jalan yang tidak terlalu besar. Untuk promosi, bahkan sekedar plang nama di depan kedainya pun tidak ada hehehe, bahkan namanya pun hanya diambil dari nama ruas jalan tempat kedai itu berada. Konsistensi menjaga kualitas memang menjadi kunci yang membuat usaha ini tetap bertahan dan menjadi top of mind Rujak Cingur di Surabaya. Photo jajaran selebritis dan pejabat yang tergantung di dinding menjadi salah satu bukti bahwa Rujak Cingur Ahmad Jais ini harus anda jadikan destinasi wisata kuliner jika berkunjung ke kota Surabaya.


Peta dan Alamat Rujak Cingur Ahmad Jais:
Jl. Ahmad Jais No. 40 Surabaya
Koordinat GPS: -7.25544,112.7402


Minggu, 17 Januari 2016

WisataKuliner Madiun - Pondok Catur


Wisata Kuliner Indonesia #388
Kuliner Madiun
PONDOK CATUR
Jl. Raya Monumen Kresek, Wungu - Madiun
Telp.: 0351 476565 / 081 335818089


Usai sarapan Nasi Pecel, beristirahat dan membersihkan badan, tak terasa matahari sudah merambat menuju puncaknya di kota Madiun. Saatnya mencari tempat untuk menyantap makan siang. Tidak ke tengah kota, kendaraan kami meluncur ke arah timur kota Madiun menyusuri jalan yang mengarah ke Monumen Kresek. Gubug Lesehan Pondok Catur, itulah tempat makan yang kami tuju, sebuah tempat makan yang mengusung konsep terbuka dengan saung-saung sambil menghirup segarnya udara di kaki pegunungan. Banyak menu yang ditawarkan seperti ayam goreng ayam bakar, gurame, bebek dan sebagainya. Tapi salah satu menu yang menyita perhatian saya adalah Ikan Wader. Ikan wader adalah ikan kecil yang cukup banyak ditemukan di perairan tawar di pulau Jawa. Ikan wader ini umumnya digoreng kering dengan menggunakan tepung dan kerap dijadikan lauk nasi ataupun kudapan. Demikian pula di Pondok Catur ini, kumpulan ikan wader yang telah digoreng kering disajikan dalam piring kecil. Di tengah udara yang dingin ini, satu piring nasi hangat dengan teman ikan wader dan sambal terasi sudah cukup untuk meningkatkan produksi air liur kita. Sluruuuppp... Harga satu porsi ikan wader Rp. 11.000,-

Menu lainnya yang bikin penasaran di Pondok catur ini adalah Belut. Jika di tempat lain, sajian belut biasanya hanya di goreng, di sini selain belut goreng, kita juga bisa menikmati belut asam manis dan belut rica-rica. Belut disajikan dalam bentuk yang sudah dipotong-potong. Yang bumbu asam manisnya bumbunya meresap ke dalam dengan mempertahankan tekstur lembut khas daging belut. Belut gorengnya juga harus dicoba, krispy di luar tapi tetap lembut di dalam. Satu porsinya Rp. 12.000,-

Jangan lupa untuk menyantap aneka sayuran di Pondok Catur ini, ada urap-urap, ca kangkung, ca tauge dan plecing jowo. Untuk minumnya silakan coba Es Dawet Catur, dawetnya lembut dan terasa terbuat dari bahan alami seperti tepung beras dan daun pandan, dalam "kuah" santan yang ringan dan tentunya gula jawa. Atau boleh juga coba Es Kelapa Muda, yang juga menggunakan gula jawa sebagai pemanisnya.

Hujan turun dengan deras begitu hidangan tersaji di meja. Udara di kaki gunung Wilis ini bertambah dingin dengan guyuran air yang membasahi tanah di sekitar Pondok Catur ini, dan ini membuat nafsu makan juga jadi meningkat. Tak lama aneka hidangan ini pun berpindah ke perut, dan kita perlu kembali ke kota Madiun untuk melanjutkan kegiatan kita. What a lunch....

Peta dan Alamat Pondok Catur Madiun:
Jl. Raya Monumen Kresek, Wungu - Madiun
Koordinat GPS: -7.69969,111.62423


Rabu, 13 Januari 2016

WisataKuliner Madiun - Pecel Mbak Yayuk


Wisata Kuliner Indonesia #387
Kuliner Madiun
PECEL MBAK YAYUK
Jl. S. Parman (depan Carefour) - Madiun


Jam 4 lewat 20 menit, matahari belum menunjukkan sinarnya ketika kereta Gajayana yang saya tumpangi bersandar di stasiun Madiun. Perjalanan lebih dari 10 jam dari stasiun Gambir cukup membuat badan saya remuk dan yang jelas perut keroncongan. Tak heran, begitu rekan-rekan dari Madiun menjemput saya dan rombongan, tujuan pertama kami bukanlah tempat menginap, melainkan tempat sarapan. Tapi apakah sudah ada tempat sarapan yang buka di pagi buta ini? Ternyata tempat makan di kota Madiun banyak yang buka 24 jam, termasuk salah satu kedai yang akhirnya kami sambangi, Depot Mbak Yayuk. Apa menu utama yang disajikan di tempat ini? Apalagi kalau bukan Nasi Pecel. Ya, Pecel memang sudah berhasil menancapkan namanya sebagai top of mind ketika berbicara tentang kuliner khas kota Madiun. Tak lama menanti, satu porsi nasi pecel sudah tersaji dalam pincuk daun pisang di depan saya: nasi putih dilengkapi aneka sayuran seperti tauge, kacang panjang, bayam dan lainnya, kemudian diguyur bumbu pecel dan dibubuhi potongan daun kemangi. Sebagai pelengkap ada taburan serundeng dan peyek teri. Bumbu pecel di mbak yayuk ini cenderung gurih dengan rasa semburat rasa manis yang tidak terlalu kuat, dan rasa pedas yang buat saya cukup, tidak terlalu pedas tapi juga cukup menggigit lidah. Taburan serundengnya tidak hanya menjadi pelengkap penampilan, tapi juga melengkapi cita rasa yang disajikan, ada sentuhan manis juga di sini. Peyek terinya pun layak diapresiasi, nyekris banget dengan rasa asin yang jadi pemersatu semua elemen yang hadir di pecel ini. Yang jadi masalah buat saya di sini adalah porsinya, tanggung. Mau nambah takut kekenyangan, tapi gak nambah kayaknya masih kurang. Mungkin efek dari perjalanan jauh ya, yang membuat rasa laparnya naek level.

Aneka lauk pendamping juga tersedia di sini, ada telur ceplok, telur dadar, paru, ayam goreng dan sebagainya. Kalau buat saya telor ceplok dan paru goreng adalah teman yang paling akrab berdampingan dengan nasi pecel. Selain pecel, di Depot Mbak Yayuk ini juga ada menu utama lainnya yaitu Nasi Rawon. Kuah rawon yang hitam karena olahan kluwek yang khasi dihadirkan bersama nasi putih, potongan daging sapi yang cukup ramah, tauge dan juga sambal di pinggiran piringnya. saya cuma sedikit mencicipi rawon ini karena pesenan teman, tapi kuahnya terasa agak ringan dengan dominan rasa asin gurih yang khas. Agak kontradiktif dengan nasi pecel yang kaya rasa.

Sumber photo: Google Street View
Sangatlah mudah menemukan penjaja nasi pecel di Madiun, hampir di setiap sudut kota kita bisa menemukan penjual kuliner andalan kota ini. Bahkan beberapa di antaranya sudah termahsyur dan berjualan pecel sejak puluhan tahun lalu. Sebut saja Pecel Bu Wo, Pecel Yu Gembrot, Pecel Murni, Warung Pojok dan Depot Mbak Yayuk ini. Kita juga bisa membawa bumbu pecel khas Madiun ini sebagai oleh-oleh ataupun untuk kita nikmati sendiri di rumah. Dijamin bumbu pecel dari Madiun ini berbeda dengan bumbu pecel yang sekarang banyak dijajakan di supermarket di Jakarta. Intinya, jangan pernah ngaku ke Madiun kalau belum mencicipi kelezatan nasi pecelnya.

Peta dan Alamat Pecel Mbak Yayuk
Jl. S. Parman (depan Carefour)
Koordinat GPS: -7.623224, 111.533222